INOVASI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DI MADRASAH IBTIDAIYAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bersifat formal pada jenjang pendidikan dasar, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama, untuk mendalami ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama Islam.
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam, madrasah ibtidaiyah memegang peran penting dalam proses pembentukan kepribadian anak didik, karena melalui pendidikan madrasah ini para orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki dua kemampuan sekaligus, tidak hanya pengetahuan umum, tetapi juga memiliki kepribadian dan komitmen yang tinggi terhadap agamanya. Oleh sebab itu, jika kita memahami benar harapan orang tua ini maka sebenarnya madrasah memiliki prospek yang cerah.[1]
Tokoh-tokoh Yunani lama, kira-kira 600 SM telah merumuskan bahwa tugas utama pendidikan ialah membantu manusia menjadi manusia. Untuk mrnghasilkan manusia seperti itu, ada tiga tugas pokok pendidikan. Pertama, mambantu murid agar mampu mengendalikan diri. Tugas pokok pertama itu adalah pendidikan akhlak. Kedua, membantu murid agar menjadi manusia yang mencintai tanah air. Tugas ini mirip dengan pendidikan civic. Ketiga, membantu manusia agar memiliki pengetahuan. [2]
Akan tetapi, menurut Malik Fadjar (1998: 35) dari sekian puluh ribu madrasah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air ini sebagian besar masih bergumul dengan persoalan berat yang sangat menentukan hidup dan matinya madrasah, sehingga nilai tawar semakin rendah dan semakin termarginalkan.[3]
Pengajaran bahasa Inggris di Indonesia sudah dimulai pada saat setelah masa Kemerdekaan Indonesia. Berbagai kurikulum dan metode telah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan anak didik dalam menguasai bahasa Inggris. Walaupun demikian hasilnya masih belum dirasakan maksimal dalam membuat anak didik dapat berkomunikasi dengan baik dengan bahasa tersebut. Berbagai masalah dan faktor yang melatar belakangi mengapa hasil yang dicapai belum sesuai yang diharapkan.
     Berangkat dari asumsi bahwa pendidikan madrasah ibtidaiyah mengandung nilai lebih dalam mendidik moral anak didik, namun terdapat beberapa problem dalam penyampaian ilmu, khususnya bahasa inggris yang pada umumnya kurang mendapat hasil yang sesuai dengn harapan. Maka perlu diadakan Inovasi pendidikan bahasa Inggris madrasah ibtidaiyah

B.     Rmusan Masalah
1.      Apa faktor yang mendasari Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah?
2.      Apa faktor yang mempengaruhi Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah?
3.      Bagaimana cara mencapai inovasi pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah?











BAB II
INOVASI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
DI MADRASAH IBTIDAIYAH

A.    Pengertian dan Hakikat Inovasi Pendidikan
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Inovasi diartikan pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat).[4]
Maksud pengertian inovasi pendidikan disini ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan.[5]
Maksud dari pengertian “baru” adalah segala sesuatu yang belum diketahui, diterima, atau dilaksanakan oleh penerima inovasi tersebut. Sedangkan maksud dari kata “kualitatif” pada pengertian diatas adalah bahwa inovasi tersebut memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali unsur-unsur pendidikan.
Dalam hal ini, pengertian inovasi disamakan dengan pembaruan, meskipun sebenarnya inovasi dan pembaruan memiliki arti yang berbeda. Biasanya pada inovasi perubahan-perubahan yang terjadi hanya mencakup aspek-aspek tertentu, atau cakupannya lebih sempit dan terbatas. Sementara dalam pembaruan mencakup berbagai aspek dan lebih luas.
Tindakan mengatur kembali pengelompokan dan jenis pelajaran, ruang kelas, waktu, cara-cara menyampaikan pelajaran, sehingga dengan tenaga, alat ruang dan waktu yang sama, dapat mencapai jumlah sasaran anak didik yang lebih banyak dan mencapai kualitas yang lebih baik merupakan contoh dari tidakan inovasi.
Tujuan utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.[6] Jadi, keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan maksimal. Tujuan yang diharapkan harus terdapat perincian yang jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang sibisa mungkin bisa diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah inovasi diadakan dan sebelum inovasi diadakan.

B.     Faktor-Faktor yang Mendasari Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Faktor yang mendasari perlunya inovasi pendidikan di madrasah tidak jauh berbeda dari faktor yang mendasari perlunya inovasi pendidikan. Hanya saja ada beberapa hal yang lebih spesifik, sebagaimana telah disampaikan oleh Jamroni, S.pd, pendidik bahasa inggris di salah satu madrasah, bahwa pengajar sudah semaksimal mungkin berusaha mengajarkan bahasa inggris, tetapi perhatian siswa yang tidak maksimal serta semangat belajar sangat rendah. Sementara pengajar seolah dikejar oleh materi lain yang belum diajarkan. Jadi meskipun siswa belum benar-benar mengerti dan memahami materi terdahulu, pengajar sudah memulai materi lain.[7]
Faktor lain adalah problem internal kelembaggaan, bahwa problem internal madrasah yang selama ini dirasakan, seperti dikatakan Malik Fadjar (1998: 41) meliputi seluruh sistem kependidikannya, terutama sistem manajemen dan etos kerja madrasah, kualitas dan kuantitas guru, kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitasnya. Problem semacam itu, seperti yang dipaparkan Imam Suprayogo, karena posisi madrasah berada dalam lingkaran setan, sebuah problem yang bersifat causal relationship; dari problem dana yang kurang memadai, fasilitas kurang, pendidikan apa adanya, kualitas rendah, semangat mundur, inovasi rendah, dan peminat kurang, demikian seterusnya berputar bagai “lingkaran setan”.[8]
Bahkan dalam sebuah surat kabar, Itje Chodijah mengungkapkan mengenai pendidikan bahasa inggris pada tingkat sekolah dasar (SD, MI dan sederajat) sebagai berikut:
"Pendidikan Bahasa Inggris di SD saat ini justru semakin salah kaprah. Para guru tidak dilatih secara serius untuk jadi pengajar Bahasa Inggris bagi siswa SD. Akibatnya, para guru terjebak memakai buku Bahasa Inggris dari penerbit. Maka, tujuan pembelajaran Bahasa Inggris di SD melenceng dari tujuannya sehingga pendidikan bahasa itu di SD dianggap sebagai beban," papar Itje Chodijah, pendidik dan pelatih guru Bahasa Inggris nasional, di Jakarta, Selasa (30/10/2012).[9]
Jadi, faktor-fakrot yang mendasari perlunya inovasi pendidikan di madrasah terutama pada tingkat dasar yakni madrasah ibtidaiyah, sesuai yang telah dipaparkan diatas dapat dirangkum sebagai berikut.
1.    Madrasah secara internal dikelola dengan sistem managemen yang kurang profesional dan belum mampu memahami serta merespon tuntutan dan aspirasi masyarakat.
2.    Problem dana yang kurang memadai, fasilitas kurang, pendidikan apa adanya.
3.    Kualitas dan kuantitas pendidik rendah.
4.    Semangat mundur, dan peminat kurang.

C.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Inovasi pendidikan merupakan perubahan pendidikan yang didasarkan atas usaha-usaha sadar, terencana, berpola dalam pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan, sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi dan tuntutan zamannya. Dalam inovasi pendidikan, gagasan baru sebagai hasil pemikiran kembali haruslah mampu memecahkan persoalan yang tidak terpecahkan oleh cara-cara tradisional yang bersifat komersial. [10]
Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Gebhard (2000:53) ada lima faktor yang mendukung terciptanya aktifitas pembelajaran bahasa yang interaktif, yaitu
5.      Pengurangan peran sentral guru
6.      Pemahaman keunikan masing-masing individu
7.      Peluang bagi siswa untuk mengungkapkan diri
8.      Kesempatan bagi siswa untuk negosiasi makna (mencari -cari cara untuk dapat memahami/menyampaikan makna) antar siswa dan antara siswa dan guru
9.      Kebebasan memlilih bagi siswa tentang tuturan yang diucapkan dan bagaimana mengungkapkannya.[11]
Mengacu pada teori diatas dan sesuai dengan masalah-masalah yang terdapat dalam madrasah ibtidaiyah, hal-hal yang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan inovasi pendidikan bahasa inggris adalah:
1.      Sistem manajemen dan etos kerja madrasah.
2.      Kualitas dan kuantitas guru bahasa inggris.
3.      Kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitas madrasah untuk mata pelajaran bahasa inggris.
4.      Kemampuan anak didik, baik itu pemahaman, perhatian, aktif dan semangat belajar bahasa inggris.





BAB III
PENCAPAIAN INOVASI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DI MADRASAH IBTIDAIYAH

A.    Tujuan Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Peranan pendidikan dan tingkat perkembangan manusia merupakan faktor yang dominan terhadap kemampuannya untuk menanggapi masalah kehidupannya sehari-hari. Setiap masalah pendidikan berkaitan erat dengan segi kehidupan yang lain, sesuai dengan kehidupan masyarakat.
Seberapa besar keterkaitan suatu masalah pendidikan dengan masalah-masalah sosial lain dalam masyarakat, secara sederhana masalah pendidikan dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis:
1.      Masalah pemerataan
2.      Masalah mutu
3.      Masalah efektivitas
4.      Masalah efisiensi[12]
Secara umum tentang maksud-maksud diadakannya inovasi pendidikan ini, adalah sebagai berikut.[13]
1.      Pembaruan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan.
2.      Inovasi pendidikan sebagai upaya untuk mengembangkan pendekatan yang lebih efektif dan ekonomis.
Jadi, lebih spesifik lagi, tujuan dari inovasi pendidikan bahasa inggris di madrasah ibtidaiyah adalah sebagai berikut:
1.      Meningkatkan kualitas guru bahasa inggris dalam mengajar.
2.      Mendapatkan strategi-srategi baru dalam pembelajaran bahasa inggris yang lebih cocok bagi siswa.
3.      Mendapatkan hasil dan pemahaman yang maksimal dari siswa.

B.     Cara Pencapaian Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga fase atau tahap, yaitu mendapatkan materi belajar, melakukan kegiatan pembelajaran di kelas, dan melakukan assessment atau evaluasi. Walaupaun dikatakan tiga fase, namun sebenarnya ketiganya dapat terjalin atau terintegrasi.[14]
Itje menjelaskan, pendidikan Bahasa Inggris di tingkat SD (sederajat) dikembangkan sebagai salah satu pilihan muatan lokal pada 1994. Sesuai panduan dari pemerintah, pendidikan Bahasa Inggris bisa  boleh dilakukan mulai kelas IV SD dan ada pengajar yang memadai. Namun, panduan ini mulai diabaikan. Pembelajaran Bahasa Inggris di SD semakin dimulai di kelas bawah, yang sebenarnya siswa masih harus berjuang untuk memantapkan penguasaan berkomuniaksi yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia. Pendidikan Bahasa Inggris di SD ini sederhana, mudah, dan menyenangkan, untuk memupuk kesenangan siswa dan menyadari ada bahasa asing sebagai alternatif  berkomunikasi.[15]
Tujuan utama pembelajaran Bahasa Inggris adalah kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris baik secara lisan ( listening dan speaking) maupun tertulis ( reading dan writing.). Untuk itu pembelajaran difokuskan pada aktifitas komunikasi untuk mengembangkan kemampuan ini. Untuk aktifias itu. diperlukan materi, misalnya text tulis dari aneka sumber dan teks lisan misalnya kaset rekaman, CD dan VCD. Teknik memperoleh materi itu antara lain sebagai berikut.
1.    Memutarkan Cuplikan Film, Video atau Lagu Bahasa Inggris
Pembelajaran listening dapat dikatakan masih sangat diabaikan dalam pengajaran Bahasa Inggris. Padahal kompetensi mendengarkan (listening) merupakan kompetensi bahasa yang sangat peniting. Pierce (1988) menyatakan bahwa kecakapan bahasa lisan, yaitu mendengarkan dan berbicara, diangap sebagai kecakapan bahasa yang paling penting dalam komunikasi langsung. Salah satu kendala yang menyebabkan pembelajaran listening agak diabaikan adalah tidak tersedianya lab bahasa di sebagian besar madrasah ibtidaiyah dan kurang tersedianya materi untuk pembelajaran listening. Seperti yang dinyatakan oleh Ur (1996: 109) ada masalah-masalah yang sering muncul seperti ketidaktersediaan laboratorium bahasa, keterbatasan materi autentik, dan kecakapan presentasi guru termasuk kecakapan bahasanya.
Tentang tidak tersedianya lab bahasa sebenarnya dapat diatasi dengan mengadakan pembelajaran listening di ruang kelas. Setting pembelajaran listening di kelas ini bahkan mempunyai keunggulan, karena dapat dipadukan dengan kegiatan speaking secara bebas. [16]
Setelah memutarkan film, video atau lagu bahasa inggris, siswa diminta untuk menuliskan kosa kata (vocabulary) yang berhasil didengar atau mengisi kata-kata yang hilang (missing words) dalam teks yang sesuai dengan film, video atau lagu bahasa inggris tersebut. Kemudian mempraktekkan bersama.
2.    Mengalihbahasakan lagu
Guru dapat mendorong kreatifitas siswa untuk mengubah lagu –lagu berbahasa Indonesia yang sedang populer ke dalam bahasa Inggris, atau sebaliknya.
3.    Pengamatan Lingkungan
Dalam kelompok kecil siswa diberi tugas melakukan pengamatan atau survey lingkungan, baik lingkungan alam atau lingkungan sosial. Untuk lingkungan alam siswa dapat mengamati keadaan hutan, jenis binatang atau tumbuhan yang hidup di tempat tertentu dsb. Untuk lingkungan sosial misalnya siswa dapat mencari informasi tentang jenis profesi yang ada di desa tertentu. Kemudian siswa dapat mempresentasikan hasil pengamatan di depan kelas
4.    Memanagemen Kegiatan Pembelajaran
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam dalam merancang skenario pembelajaran yaitu:
-       Aktifitas tidak didominasi oleh guru, sebaliknya siswa yang harus lebih banyak melakukuan aktifitas (student -centered learning activities);
-       Aktifitas menarik dan menyenangkan bagi siswa (joyful learning).
-       Akktifitas mengembangkan kompetensi komunikasi baik lesan maupun tulis.[17]
5.    Percakapan
Percakapan ini dilakukan berpasangan dalam kelompok dua-dua. Setiap siswa melakukan percakapan dengan teman sebangkunya. Kegiatan ini cocok untuk dirangkai dengan pembelajaran reading dan pembelajaran listening. Menurut Ur (1996: 105-106) sangat penting untuk melakukan kegiatan mendengarkan yang juga melibatkan berbicara. Sementara itu   Peck (1988: 187-188) menyatakan bahwa kegiatan post listening ini adalah sangat penting sebab hal ini juga melatih kecakapan bahasa produktif siswa.
6.    English Contest
English contest (lomba Bahasa Inggris) dapat dilakukan antar kelas dalam satu sekolah atau antar sekolah dalam satu kota. Kecakapan Bahasa Inggris yang dilonbakan dapat meliputi speech (pidato), debate (adu pendapat), story telling (bercerita), English quiz, poetry reading (baca puisi), MC dsb.







BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
Untuk menghadapi perubahan zaman yang semakin menuntut sumber daya manusia yang lebih berkompetensi dalam segala segi kehidupan dan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bahasa inggris di madrasah ibtidaiyah yang sementara ini masih tergolong kurang memuaskan, guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan perlu merancang dan melaksanakan model-model pembelajaran yang bervariasi. Dengan model pembelajaran yang bervariasi ini, diharapkan lebih menggairahkan bagi siswa, tidak membosankan dan dapat mengatasi masalah siswa yang hanya cocok dengan tipe atau jenis pembelajaran tertentu.
Diantara strategi-strategi pembelajaran yang cukup efektif dan menyenangkan bagi siswa MI yaitu aktifitas-aktifitas pembelajaran berupa memutarkan cuplikan film, video atau lagu bahasa inggris, mengumpulkan, mendengarkan dan menyanyikan lagu Bahasa Inggris, mengalihbahasakan lagu, mengamati dan mempresentasikan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan, percakapan.

B.     Saran
Sebagai pelaksana terdepan dalam kegiatan pendidikan, guru hendaknya memahami situasi dan kondisi kelas, kemudian berupaya merancang teknik -teknik pembelajaran dan menguji - cobakan di kelas. Dengan teknik-teknik yang diuji cobakan, diharapkan akan ditemukan model pembelajaran yang menyenangkan siswa dan efektif.
Selanjutnya, sebaiknya guru mempublikasikan hasil temuannya dengan  bekerjasama, berkumpul dalam suatu wadah, seperti MGMP, dan bertukar pikiran dan pengalalaman untuk mencapai keberhasilan yang lebih baik dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi dalam tugas pendidikannya.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, M. Asrori. Madrasah: Kekuatan, Kelemahan dan Peluang, (Online), http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/madrasah-kekuatan-kelemahan-dan-peluang.html, diakses 18 Desember 2012.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ekosusilo, Madyo– Kasihadi, RB. 1988. Dasar-dasar Kependidikan. Semarang: Effhar Publishing.
Fadjar, Malik. 1998. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan.
Gebhard, Jerry G. 2000. Teaching English as a Foreign or Second Language: A Teacher Self -development and Methodology Guide. Michigan: The University of Michigan Press.
Hasbullah. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Kompas. 30 Oktober, 2012. Pelajaran Bahasa Inggris di SD Perlu Perbaikan. (online), (http://kompas.com , diakses tanggal 22 Desember 2012)
Rosyidah, Asmawatie. 2008. Upaya Menemukan Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris yang Menyenangkan dan Efektif. Makalah tidak diterbitkan Surabaya: Diklat Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Suryosubroto, B.  1990. Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu, Memanusiakan Manusia. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Tim Dosen FIP IKIP Malang. 1988. Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Wawancara dengan Jamroni, Kertosono, 22 Desember 2012





[1] M. Asrori Ardiansyah, M.Pd, Madrasah: Kekuatan, Kelemahan dan Peluang, (Online), (http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/madrasah-kekuatan-kelemahan-dan-peluang.html, diakses 18 Desember 2012)
[2] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu,   Memanusiakan Manusia (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2010) hal. 185
[3] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung: Mizan, 1998) hal. 35
[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990) hal. 333
[5] B. Suryosubroto, Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990) hal. 127
[6] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), hal. 190-191
[7] Wawancara dengan Jamroni, Kertosono, 22 Desember 2012
[8] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung: Mizan, 1998) hal. 41
[9] Kompas, Pelajaran Bahasa Inggris di SD Perlu Perbaikan, 30 Oktober, 2012, (online), (http://kompas.com , diakses tanggal 22 Desember 2012)
[10] Madyo Ekosusilo – RB. Kasihadi, Dasar-dasar Kependidikan, (Semarang: Effhar Publishing, 1988), hal.92
[11] Jerry G. Gebhard, Teaching English as a Foreign or Second Language: A Teacher Self -development and Methodology Guide (Michigan: The University of Michigan Press, 2000), hal. 53
[12] Tim Dosen FIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal. 201
[13] Ibid., hal. 202-207
[14] Asmawatie Rosyidah, Upaya Menemukan Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris yang Menyenangkan dan Efektif, (Surabaya: Diklat Mata Pelajaran Bahasa Inggris, 2008) hal. 8
[15] Kompas, Pelajaran Bahasa Inggris di SD Perlu Perbaikan, 30 Oktober, 2012 (online), (http://kompas.com , diakses tanggal 22 Desember 2012)
[16] Ibid., hal. 9
[17] Ibid., hal. 11

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Kelas XII K 13 "TEKS PROSEDUR" (Prosedure Text)

RPP Kelas XII K13 "TEKS PENYERTA GAMBAR" (CAPTION)

Teaching Listening: Podcasting