INOVASI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS DI MADRASAH IBTIDAIYAH
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Madrasah
Ibtidaiyah merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia
yang bersifat formal pada jenjang pendidikan dasar, yang pengelolaannya
dilakukan oleh Kementerian Agama,
untuk mendalami ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama Islam.
Sebagai lembaga pendidikan yang
mempunyai ciri khas Islam, madrasah ibtidaiyah memegang peran penting dalam proses
pembentukan kepribadian anak didik, karena melalui pendidikan madrasah ini para
orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki dua kemampuan sekaligus, tidak
hanya pengetahuan umum, tetapi juga memiliki kepribadian dan komitmen yang
tinggi terhadap agamanya. Oleh sebab itu, jika kita memahami benar harapan
orang tua ini maka sebenarnya madrasah memiliki prospek yang cerah.[1]
Tokoh-tokoh
Yunani lama, kira-kira 600 SM telah merumuskan bahwa tugas utama pendidikan ialah
membantu manusia menjadi manusia. Untuk mrnghasilkan manusia seperti itu, ada
tiga tugas pokok pendidikan. Pertama, mambantu murid agar mampu
mengendalikan diri. Tugas pokok pertama itu adalah pendidikan akhlak. Kedua,
membantu murid agar menjadi manusia yang mencintai tanah air. Tugas ini
mirip dengan pendidikan civic. Ketiga, membantu manusia agar
memiliki pengetahuan. [2]
Akan tetapi, menurut Malik Fadjar
(1998: 35) dari sekian puluh ribu madrasah yang tersebar di seluruh pelosok
tanah air ini sebagian besar masih bergumul dengan persoalan berat yang sangat
menentukan hidup dan matinya madrasah, sehingga nilai tawar semakin rendah dan
semakin termarginalkan.[3]
Pengajaran bahasa Inggris di Indonesia sudah dimulai pada saat setelah
masa Kemerdekaan Indonesia. Berbagai kurikulum dan metode telah dikembangkan
untuk meningkatkan kemampuan anak didik dalam menguasai bahasa Inggris. Walaupun demikian
hasilnya masih belum dirasakan maksimal dalam membuat anak
didik dapat berkomunikasi dengan baik dengan bahasa tersebut. Berbagai masalah dan faktor yang
melatar belakangi mengapa hasil yang dicapai belum sesuai yang diharapkan.
Berangkat dari asumsi bahwa pendidikan madrasah ibtidaiyah mengandung nilai lebih dalam mendidik moral anak didik, namun terdapat beberapa problem dalam penyampaian ilmu, khususnya bahasa inggris yang pada umumnya kurang mendapat hasil yang sesuai dengn harapan. Maka perlu diadakan Inovasi pendidikan bahasa Inggris madrasah ibtidaiyah
Berangkat dari asumsi bahwa pendidikan madrasah ibtidaiyah mengandung nilai lebih dalam mendidik moral anak didik, namun terdapat beberapa problem dalam penyampaian ilmu, khususnya bahasa inggris yang pada umumnya kurang mendapat hasil yang sesuai dengn harapan. Maka perlu diadakan Inovasi pendidikan bahasa Inggris madrasah ibtidaiyah
B. Rmusan
Masalah
1. Apa
faktor yang mendasari Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah?
2. Apa
faktor yang mempengaruhi Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah
Ibtidaiyah?
3. Bagaimana
cara mencapai inovasi pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah?
BAB
II
INOVASI
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
DI
MADRASAH IBTIDAIYAH
A. Pengertian
dan Hakikat Inovasi Pendidikan
Di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Inovasi diartikan pemasukan atau pengenalan
hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang
sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat).[4]
Maksud
pengertian inovasi pendidikan disini ialah suatu perubahan yang baru dan
bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang sebelumnya serta sengaja diusahakan
untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam
pendidikan.[5]
Maksud
dari pengertian “baru” adalah segala sesuatu yang belum diketahui, diterima,
atau dilaksanakan oleh penerima inovasi tersebut. Sedangkan maksud dari kata
“kualitatif” pada pengertian diatas adalah bahwa inovasi tersebut memungkinkan
adanya reorganisasi atau pengaturan kembali unsur-unsur pendidikan.
Dalam
hal ini, pengertian inovasi disamakan dengan pembaruan, meskipun sebenarnya
inovasi dan pembaruan memiliki arti yang berbeda. Biasanya pada inovasi perubahan-perubahan
yang terjadi hanya mencakup aspek-aspek tertentu, atau cakupannya lebih sempit
dan terbatas. Sementara dalam pembaruan mencakup berbagai aspek dan lebih luas.
Tindakan
mengatur kembali pengelompokan dan jenis pelajaran, ruang kelas, waktu, cara-cara
menyampaikan pelajaran, sehingga dengan tenaga, alat ruang dan waktu yang sama,
dapat mencapai jumlah sasaran anak didik yang lebih banyak dan mencapai
kualitas yang lebih baik merupakan contoh dari tidakan inovasi.
Tujuan
utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan, yakni kemampuan dari
sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan
prosedur organisasi.[6] Jadi,
keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan
dapat dicapai dengan maksimal. Tujuan yang diharapkan harus terdapat perincian
yang jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang sibisa
mungkin bisa diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah inovasi
diadakan dan sebelum inovasi diadakan.
B. Faktor-Faktor
yang Mendasari Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Faktor
yang mendasari perlunya inovasi pendidikan di madrasah tidak jauh berbeda dari
faktor yang mendasari perlunya inovasi pendidikan. Hanya saja ada beberapa hal
yang lebih spesifik, sebagaimana telah disampaikan oleh Jamroni, S.pd, pendidik
bahasa inggris di salah satu madrasah, bahwa pengajar sudah semaksimal mungkin
berusaha mengajarkan bahasa inggris, tetapi perhatian siswa yang tidak maksimal
serta semangat belajar sangat rendah. Sementara pengajar seolah dikejar oleh
materi lain yang belum diajarkan. Jadi meskipun siswa belum benar-benar
mengerti dan memahami materi terdahulu, pengajar sudah memulai materi lain.[7]
Faktor lain adalah problem internal
kelembaggaan, bahwa problem internal madrasah yang selama ini dirasakan,
seperti dikatakan Malik Fadjar (1998: 41) meliputi seluruh sistem
kependidikannya, terutama sistem manajemen dan etos kerja madrasah, kualitas
dan kuantitas guru, kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitasnya. Problem
semacam itu, seperti yang dipaparkan Imam Suprayogo, karena posisi madrasah
berada dalam lingkaran setan, sebuah problem yang bersifat causal relationship;
dari problem dana yang kurang memadai, fasilitas kurang, pendidikan apa adanya,
kualitas rendah, semangat mundur, inovasi rendah, dan peminat kurang, demikian
seterusnya berputar bagai “lingkaran setan”.[8]
Bahkan
dalam sebuah surat kabar, Itje Chodijah mengungkapkan mengenai pendidikan
bahasa inggris pada tingkat sekolah dasar (SD, MI dan sederajat) sebagai
berikut:
"Pendidikan
Bahasa Inggris di SD saat ini justru semakin salah kaprah. Para guru tidak
dilatih secara serius untuk jadi pengajar Bahasa Inggris bagi siswa SD.
Akibatnya, para guru terjebak memakai buku Bahasa Inggris dari penerbit. Maka,
tujuan pembelajaran Bahasa Inggris di SD melenceng dari tujuannya sehingga
pendidikan bahasa itu di SD dianggap sebagai beban," papar Itje Chodijah,
pendidik dan pelatih guru Bahasa Inggris nasional, di Jakarta, Selasa
(30/10/2012).[9]
Jadi,
faktor-fakrot yang mendasari perlunya inovasi pendidikan di madrasah terutama
pada tingkat dasar yakni madrasah ibtidaiyah, sesuai yang telah dipaparkan diatas
dapat dirangkum sebagai berikut.
1. Madrasah secara internal dikelola
dengan sistem managemen yang kurang profesional dan belum mampu memahami serta
merespon tuntutan dan aspirasi masyarakat.
2. Problem dana yang kurang memadai,
fasilitas kurang, pendidikan apa adanya.
3. Kualitas dan kuantitas pendidik
rendah.
4. Semangat mundur, dan peminat kurang.
C. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Inovasi
pendidikan merupakan perubahan pendidikan yang didasarkan atas usaha-usaha
sadar, terencana, berpola dalam pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan,
sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi dan tuntutan zamannya. Dalam inovasi
pendidikan, gagasan baru sebagai hasil pemikiran kembali haruslah mampu
memecahkan persoalan yang tidak terpecahkan oleh cara-cara tradisional yang
bersifat komersial. [10]
Sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Gebhard (2000:53) ada lima faktor yang
mendukung terciptanya aktifitas pembelajaran bahasa yang interaktif, yaitu
5. Pengurangan
peran sentral guru
6. Pemahaman
keunikan masing-masing individu
7. Peluang
bagi siswa untuk mengungkapkan diri
8. Kesempatan
bagi siswa untuk negosiasi makna (mencari -cari cara untuk dapat
memahami/menyampaikan makna) antar siswa dan antara siswa dan guru
9. Kebebasan
memlilih bagi siswa tentang tuturan yang diucapkan dan bagaimana mengungkapkannya.[11]
Mengacu
pada teori diatas dan sesuai dengan masalah-masalah yang terdapat dalam
madrasah ibtidaiyah, hal-hal yang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan inovasi
pendidikan bahasa inggris adalah:
1. Sistem manajemen dan etos kerja
madrasah.
2. Kualitas dan kuantitas guru bahasa
inggris.
3. Kurikulum, dan sarana fisik dan
fasilitas madrasah untuk mata pelajaran bahasa inggris.
4. Kemampuan anak didik, baik itu
pemahaman, perhatian, aktif dan semangat belajar bahasa inggris.
BAB III
PENCAPAIAN INOVASI PENDIDIKAN BAHASA
INGGRIS DI MADRASAH IBTIDAIYAH
A. Tujuan
Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Peranan
pendidikan dan tingkat perkembangan manusia merupakan faktor yang dominan
terhadap kemampuannya untuk menanggapi masalah kehidupannya sehari-hari. Setiap
masalah pendidikan berkaitan erat dengan segi kehidupan yang lain, sesuai
dengan kehidupan masyarakat.
Seberapa
besar keterkaitan suatu masalah pendidikan dengan masalah-masalah sosial lain
dalam masyarakat, secara sederhana masalah pendidikan dapat dikelompokkan dalam
beberapa jenis:
1. Masalah
pemerataan
2. Masalah
mutu
3. Masalah
efektivitas
4. Masalah
efisiensi[12]
Secara
umum tentang maksud-maksud diadakannya inovasi pendidikan ini, adalah sebagai
berikut.[13]
1. Pembaruan
pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan.
2. Inovasi
pendidikan sebagai upaya untuk mengembangkan pendekatan yang lebih efektif dan
ekonomis.
Jadi,
lebih spesifik lagi, tujuan dari inovasi pendidikan bahasa inggris di madrasah
ibtidaiyah adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan
kualitas guru bahasa inggris dalam mengajar.
2. Mendapatkan
strategi-srategi baru dalam pembelajaran bahasa inggris yang lebih cocok bagi
siswa.
3. Mendapatkan
hasil dan pemahaman yang maksimal dari siswa.
B. Cara
Pencapaian Inovasi Pendidikan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah
Dalam
pembelajaran Bahasa Inggris, kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi
tiga fase atau tahap, yaitu mendapatkan materi belajar, melakukan kegiatan
pembelajaran di kelas, dan melakukan assessment atau evaluasi. Walaupaun
dikatakan tiga fase, namun sebenarnya ketiganya dapat terjalin atau
terintegrasi.[14]
Itje
menjelaskan, pendidikan Bahasa Inggris di tingkat SD (sederajat) dikembangkan
sebagai salah satu pilihan muatan lokal pada 1994. Sesuai panduan dari
pemerintah, pendidikan Bahasa Inggris bisa boleh dilakukan mulai kelas IV
SD dan ada pengajar yang memadai. Namun, panduan ini mulai diabaikan. Pembelajaran
Bahasa Inggris di SD semakin dimulai di kelas bawah, yang sebenarnya siswa
masih harus berjuang untuk memantapkan penguasaan berkomuniaksi yang baik dan
benar dalam bahasa Indonesia. Pendidikan Bahasa Inggris di SD ini sederhana,
mudah, dan menyenangkan, untuk memupuk kesenangan siswa dan menyadari ada
bahasa asing sebagai alternatif berkomunikasi.[15]
Tujuan
utama pembelajaran Bahasa Inggris adalah kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa
Inggris baik secara lisan ( listening dan speaking) maupun tertulis ( reading
dan writing.). Untuk itu pembelajaran difokuskan pada aktifitas komunikasi
untuk mengembangkan kemampuan ini. Untuk aktifias itu. diperlukan materi,
misalnya text tulis dari aneka sumber dan teks lisan misalnya kaset rekaman, CD
dan VCD. Teknik memperoleh materi itu antara lain sebagai berikut.
1. Memutarkan
Cuplikan Film, Video atau Lagu Bahasa Inggris
Pembelajaran
listening dapat dikatakan masih sangat diabaikan dalam pengajaran Bahasa
Inggris. Padahal kompetensi mendengarkan (listening) merupakan kompetensi
bahasa yang sangat peniting. Pierce (1988) menyatakan bahwa kecakapan bahasa
lisan, yaitu mendengarkan dan berbicara, diangap sebagai kecakapan bahasa yang
paling penting dalam komunikasi langsung. Salah satu kendala yang menyebabkan pembelajaran
listening agak diabaikan adalah tidak tersedianya lab bahasa di sebagian besar madrasah
ibtidaiyah dan kurang tersedianya materi untuk pembelajaran listening. Seperti
yang dinyatakan oleh Ur (1996: 109) ada masalah-masalah yang sering muncul
seperti ketidaktersediaan laboratorium bahasa, keterbatasan materi autentik,
dan kecakapan presentasi guru termasuk kecakapan bahasanya.
Tentang
tidak tersedianya lab bahasa sebenarnya dapat diatasi dengan mengadakan pembelajaran
listening di ruang kelas. Setting pembelajaran listening di kelas ini bahkan
mempunyai keunggulan, karena dapat dipadukan dengan kegiatan speaking secara
bebas. [16]
Setelah
memutarkan film, video atau lagu bahasa inggris, siswa diminta untuk menuliskan
kosa kata (vocabulary) yang berhasil didengar atau mengisi kata-kata
yang hilang (missing words) dalam teks yang sesuai dengan film, video
atau lagu bahasa inggris tersebut. Kemudian mempraktekkan bersama.
2. Mengalihbahasakan
lagu
Guru
dapat mendorong kreatifitas siswa untuk mengubah lagu –lagu berbahasa Indonesia
yang sedang populer ke dalam bahasa Inggris, atau sebaliknya.
3. Pengamatan
Lingkungan
Dalam
kelompok kecil siswa diberi tugas melakukan pengamatan atau survey lingkungan,
baik lingkungan alam atau lingkungan sosial. Untuk lingkungan alam siswa dapat
mengamati keadaan hutan, jenis binatang atau tumbuhan yang hidup di tempat
tertentu dsb. Untuk lingkungan sosial misalnya siswa dapat mencari informasi
tentang jenis profesi yang ada di desa tertentu. Kemudian siswa dapat
mempresentasikan hasil pengamatan di depan kelas
4. Memanagemen
Kegiatan Pembelajaran
Hal-hal
yang perlu mendapat perhatian dalam dalam merancang skenario pembelajaran
yaitu:
- Aktifitas
tidak didominasi oleh guru, sebaliknya siswa yang harus lebih banyak melakukuan
aktifitas (student -centered learning activities);
- Aktifitas
menarik dan menyenangkan bagi siswa (joyful learning).
- Akktifitas
mengembangkan kompetensi komunikasi baik lesan maupun tulis.[17]
5. Percakapan
Percakapan
ini dilakukan berpasangan dalam kelompok dua-dua. Setiap siswa melakukan
percakapan dengan teman sebangkunya. Kegiatan ini cocok untuk dirangkai dengan
pembelajaran reading dan pembelajaran listening. Menurut Ur (1996: 105-106)
sangat penting untuk melakukan kegiatan mendengarkan yang juga melibatkan
berbicara. Sementara itu Peck (1988:
187-188) menyatakan bahwa kegiatan post listening ini adalah sangat penting
sebab hal ini juga melatih kecakapan bahasa produktif siswa.
6. English
Contest
English
contest (lomba Bahasa Inggris) dapat dilakukan antar kelas dalam satu sekolah
atau antar sekolah dalam satu kota. Kecakapan Bahasa Inggris yang dilonbakan
dapat meliputi speech (pidato), debate (adu pendapat), story
telling (bercerita), English quiz, poetry reading (baca puisi), MC dsb.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Untuk
menghadapi perubahan zaman yang semakin menuntut sumber daya manusia yang lebih
berkompetensi dalam segala segi kehidupan dan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan bahasa inggris di madrasah ibtidaiyah yang sementara ini masih
tergolong kurang memuaskan, guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan
perlu merancang dan melaksanakan model-model pembelajaran yang bervariasi.
Dengan model pembelajaran yang bervariasi ini, diharapkan lebih menggairahkan
bagi siswa, tidak membosankan dan dapat mengatasi masalah siswa yang hanya
cocok dengan tipe atau jenis pembelajaran tertentu.
Diantara
strategi-strategi pembelajaran yang cukup efektif dan menyenangkan bagi siswa
MI yaitu aktifitas-aktifitas pembelajaran berupa memutarkan cuplikan film, video
atau lagu bahasa inggris, mengumpulkan, mendengarkan dan menyanyikan lagu
Bahasa Inggris, mengalihbahasakan lagu, mengamati dan mempresentasikan hal-hal
yang berkaitan dengan lingkungan, percakapan.
B. Saran
Sebagai
pelaksana terdepan dalam kegiatan pendidikan, guru hendaknya memahami situasi
dan kondisi kelas, kemudian berupaya merancang teknik -teknik pembelajaran dan
menguji - cobakan di kelas. Dengan teknik-teknik yang diuji cobakan, diharapkan
akan ditemukan model pembelajaran yang menyenangkan siswa dan efektif.
Selanjutnya,
sebaiknya guru mempublikasikan hasil temuannya dengan bekerjasama, berkumpul dalam suatu wadah,
seperti MGMP, dan bertukar pikiran dan pengalalaman untuk mencapai keberhasilan
yang lebih baik dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi dalam tugas
pendidikannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Ardiansyah, M. Asrori. Madrasah:
Kekuatan, Kelemahan dan Peluang, (Online), http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/madrasah-kekuatan-kelemahan-dan-peluang.html,
diakses 18 Desember 2012.
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Ekosusilo,
Madyo– Kasihadi, RB. 1988. Dasar-dasar Kependidikan. Semarang: Effhar
Publishing.
Fadjar,
Malik. 1998.
Madrasah
dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan.
Gebhard,
Jerry G. 2000. Teaching English as a Foreign or Second Language: A Teacher
Self -development and Methodology Guide. Michigan: The University of
Michigan Press.
Hasbullah.
2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Kompas.
30 Oktober, 2012. Pelajaran Bahasa Inggris di SD Perlu Perbaikan.
(online), (http://kompas.com
, diakses tanggal 22 Desember 2012)
Rosyidah,
Asmawatie. 2008. Upaya Menemukan Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris yang
Menyenangkan dan Efektif. Makalah tidak diterbitkan Surabaya: Diklat Mata
Pelajaran Bahasa Inggris
Suryosubroto,
B. 1990. Beberapa Aspek Dasar-dasar
Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tafsir,
Ahmad. 2010. Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu,
Memanusiakan Manusia. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Tim Dosen FIP IKIP Malang. 1988. Pengantar
Dasar-dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Wawancara
dengan Jamroni, Kertosono, 22 Desember 2012
[1] M.
Asrori Ardiansyah, M.Pd, Madrasah: Kekuatan, Kelemahan dan Peluang, (Online),
(http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/madrasah-kekuatan-kelemahan-dan-peluang.html, diakses 18 Desember
2012)
[2] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu, Memanusiakan Manusia (Bandung: PT REMAJA
ROSDAKARYA, 2010) hal. 185
[4] Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1990) hal. 333
[5] B. Suryosubroto, Beberapa
Aspek Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990) hal. 127
[6] Hasbullah, Dasar-dasar
Ilmu Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006),
hal. 190-191
[7] Wawancara dengan
Jamroni, Kertosono, 22 Desember 2012
[9] Kompas, Pelajaran Bahasa
Inggris di SD Perlu Perbaikan, 30 Oktober, 2012, (online), (http://kompas.com , diakses tanggal 22
Desember 2012)
[10] Madyo Ekosusilo – RB.
Kasihadi, Dasar-dasar Kependidikan, (Semarang: Effhar Publishing, 1988),
hal.92
[11] Jerry G. Gebhard, Teaching
English as a Foreign or Second Language: A Teacher Self -development and
Methodology Guide (Michigan: The University of Michigan Press, 2000), hal.
53
[12] Tim Dosen FIP IKIP
Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,
1988), hal. 201
[13] Ibid., hal. 202-207
[14] Asmawatie Rosyidah, Upaya
Menemukan Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris yang Menyenangkan dan Efektif,
(Surabaya: Diklat Mata Pelajaran Bahasa Inggris, 2008) hal. 8
[15] Kompas,
Pelajaran Bahasa Inggris di SD Perlu Perbaikan, 30 Oktober, 2012
(online), (http://kompas.com , diakses tanggal 22
Desember 2012)
[16] Ibid., hal. 9
[17] Ibid., hal. 11

good job...
BalasHapuskunjungi juga blog kami mbak
http://nikkysanez.blogspot.co.id/
oke siap
BalasHapus