Akhlak Tasawuf - PEMBENTUKAN AKHLAK DAN KARAKTER DI MADRASAH

Assalamu'alaikum.....
Hi! How are you today?
My posting for this time is nothing to deal with English. However, as I'm studying in Islamic University right now, so I still have to discuss about this issue in my department. Hopefully this is gonna be useful, not only for English Learners (students who take English major), but also for everyone.
Check this out:


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pembentukan akhlak dan karakteristik dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk kepribadian manusia dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan akhlak dan karakteristik islami merupakan inti dari risalah islam.
Sebagai lembaga pendidikan Islam, madrasah memegang peranan yang sangat penting didalam pembentukan akhlak dan karakteristik anak bangsa. Karena tujuan dari pendidikan Islam sendiri adalah membangun mental dan pribadi muslim yang ideal. Citra muslim ideal[1] setidaknya memenuhi tigak kriteria, yakni kokoh pola rohaniyahnya, kokoh ilmu pengetahuannya, dan kokoh fisiknya.
Ketiga kriteria diatas sangatlah penting diwujudkan karena beberapa alasan[2]. Pertama, akhlak bingkai atau wadah agama. Kedua, Allah senantiasa menyeru kepada manusia agar selalu berkeinginan untuk menambah ilmu pengetahuan. Dengan demikian, akhlak adalah hasil usaha pembinaan dan bukan terjadi dengan sendirinya.
Pengaruh lingkungan yang didapat seseorang ketika usia dini sangat penting untuk membentuk karakternya ketika dewasa. Meniru adalah hal yang paling mendominasi ketika seseorang berada dalam masa itu. Dengan adanya lingkungan pendidikan berbasis Islam, yakni madrasah, diharapkan sangat membantu.
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam, madrasah memegang peran penting dalam proses pembentukan kepribadian anak didik, karena melalui pendidikan madrasah ini para orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki dua kemampuan sekaligus, tidak hanya pengetahuan umum, tetapi juga memiliki kepribadian dan komitmen yang tinggi terhadap agamanya. Oleh sebab itu, jika kita memahami benar harapan orang tua ini maka sebenarnya madrasah memiliki prospek yang cerah.[3]
Tetapi, di negara Indonesia, lingkungan madrasah dalam lingkup sekolah formal dengan madrasah dalam lingkup pesantren saat ini sangat jauh berbeda. Dewasa ini, dalam rangka mengejar sekolah-sekolah umum yang semakin maju, mayoritas madrasah lebih condong pada kehidupan yang kurang begitu religius dan meninggalkan budaya lama yang berkiblat kepada pesantren. Sehingga perbedaan antara sekolah-sekolah umum dan madrasah, sudah tidak jauh berbeda, baik itu prestasi maupun akhlaknya, baik itu guru-guru atau siswa-siswinya.
Oleh sebab itu, makalah ini diperlukan untuk mengkaji apa sebenarnya arti dan hakekat madrasah bagi masyarakat? bagaimanakah pembentukan karakteristik seseorang di madrasah?

B.  Rumusan Masalah
1.     Apa arti dan hakekat madrasah bagi masyarakat?
2.    Bagaimanakah pembentukan karakteristik seseorang di madrasah?



BAB II
PENGERTIAN DAN HAKIKAT MADRASAH
A.  Pengertian dan Hakikat Madrasah
Madrasah berasal dari bahasa Arab yaitu Madrasah yang artinya tempat untuk belajar atau sistem pendidikan klasikal yang didalamnya berlangsung proses belajar mengajar dengan materi-materi kajian yang terdiri dari ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.[4]
Menurut Malik Fadjar pengertian Madrasah secara umum dapat diartikan sebagai sekolah umum yang bercirikhas Islam yang menjadi bagian keseluruhan dari sistem pendidikan nasional.[5]
Dalam SKB tiga mentri disebutkan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran dasar yang diberikan sekurang-kurangnya 30% disamping mata pelajaran umum. [6] 
Tokoh-tokoh Yunani lama, kira-kira 600 SM telah merumuskan bahwa tugas utama pendidikan ialah membantu manusia menjadi manusia. Untuk mrnghasilkan manusia seperti itu, ada tiga tugas pokok pendidikan. Pertama, mambantu murid agar mampu mengendalikan diri. Tugas pokok pertama itu adalah pendidikan akhlak. Kedua, membantu murid agar menjadi manusia yang mencintai tanah air. Tugas ini mirip dengan pendidikan civic. Ketiga, membantu manusia agar memiliki pengetahuan. [7]

B.  Faktor-faktor yang Mendasari Masyarakat di Indonesia Memilih Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan Formal Anak
Secara teknis Madrasah tidak berbeda dengan Sekolah, hanya dengan lingkup kultur Madrasah mempunyai spesialisasi. Di lembaga ini siswa  memperoleh pembelajaran hal ikhwal atau seluk beluk Agama dan keagamaan,  sehingga dalam penggunaan kata Madrasah sering dikonotasikan dengan sekolah Agama.
Dalam pada itu kehadiran Madrasah masih sangat dibutuhkan karena  Madrasah mampu melahirkan peserta didik yang memiliki budipekerti luhur serta kesdaran beragama yang lebih tinggi. Keunggulan Madrasah tersebut dirasa sangat sesuai dan relevan untuk mengatisipasi sebagai akses dan pengaruh pendidikan modern seperti sikap sekuleristik, materialistic, dan cenderung mengabaikan persoalan moral.
Bagi remaja usia sekolah mengabaikan masalah moral dan spiritual megakibatkn banyak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan rti perkelahian antar pelajar, penggunaan obat terlarang yang sering terjadi akhir-akhir ini. Dengan keunggulan Madrasah tersebut, orang tua merasa tenang jika anaknya belajar di Madrasah.
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam, madrasah ibtidaiyah memegang peran penting dalam proses pembentukan kepribadian anak didik, karena melalui pendidikan madrasah ini para orang tua berharap agar anak-anaknya memiliki dua kemampuan sekaligus, tidak hanya pengetahuan umum, tetapi juga memiliki kepribadian dan komitmen yang tinggi terhadap agamanya. Oleh sebab itu, jika kita memahami benar harapan orang tua ini maka sebenarnya madrasah memiliki prospek yang cerah.[8]


C.  Aspek-aspek yang Mempengaruhi Akhlak[9]
1.      Insting
Menurut James, insting adalah suatu alat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir lebih dahulu kearah tujuan itu dan tiada dengan didahului latihan perbuatan itu.
Berangkat dari pengertian insting diatas, maka sebetulnya ia dapat tumbuh dengan pendidikan. Ia dapat lenyap karena dilupakan, sifatnya adalah tidak stabil. Pengertian insting lebih lanjut adalah sifat jiwa yang pertama yang membentuk akhlak, akan tetapi suatu sifat yang masih primitif, yang tidak dapat dilengahkan begitu saja, bahkan wajib dididik dan diasuh. Cara mendidik dan mengasuh insting kadang-kadang ditolak dan kadang diterima.
2.      Pola Dasar Bawaan (Turunan)
Ø Turunan (pembawaan) sifat-sifat manusia. Dimana-mana tempat, orang membawa turunan dengan beberapa sifat yang bersamaan.
Ø Sifat-sifat bangsa. Selain adat kebiasaan tiap-tiap bangsa, ada juga beberapa sifat yang diturunkan .
3.      Lingkungan
Lingkungan alam telah menjadi perhatian para ahli sejak zaman Plato hingga sekarang. Apabila manusia tumbuh dalam lingkungan yang baik, kawan yang sopan dan beragama benar, tentu akan menjadi orang baik. Begitu juga sebaliknya.
4.      Kebiasaan
Kebiasaan ialah perbuatan yang diulang-ulang terus sehingga mudah dikerjakan bagi seseorang. Seseorang berbuat baik atau buruk karena dua faktor, yaitu:
Ø  Kesukaan hati terhadap suatu pekerjaan
Ø  Menerima kesukaan itu, dan akhirnya menampakkan perbuatan, kemudian diulang terus menerus.
5.      Kehendak
Para ahli mengatakan bahwa setiap keinginan mengikuti keadaan jiwa tertentu. Suatu perbuatan ada yang berdasarkan kehendak dan ada yang bukan. Keinginan yang menang adalah keinginan yang alamnya lebih kuat meskipun dia bukan keinginan yang paling kuat.
6.      Pendidikan
Dunia pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku dan akhlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan, agar siswa dapat memahaminya dan dapat melakukan suatu perubahan pada dirinya. Begitu pula apabila siswa diberi pelajaran akhlak, maka memberitahu bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku, bersikap terhadap sesamanya dan penciptanya (Tuhan).
Dengan demikian, strategis sekali dikalangan pendidikan dijadikan pusat perubahan perilaku atau akhlak. Maka dibutuhkan beberapa unsur dalam pendidikan untuk bisa dijadikan agen perubahan sikap dan perilaku manusia.
Dari tenaga pendidik (pengajar) perlu memiliki kemampuan profesionalitas dalam bidangnya. Mereka harus mampu memberi wawasan,materi, mengarahkan dan membimbing anak didiknya ke hal yang baik.



BAB II
PEMBENTUKAN KARAKTERISTIK DI MADRASAH
A.  Sistem Pendidikan  Madrasah di Indonesia
Sedikitnya ada dua sistem pendidikan yang berkembang dan populer hingga saat ini di Indonesia, yaitu sistem pendidikan Bumiputera dan sistem pendidikan ala Belanda. Sistem pendidikan Bumiputera dikenal dengan pesantren dan madrasah sedang sistem pendidikan ala Belanda disebut dengan sekolah.[10]
Kontak Islam dengan penduduk Nusantara sejak awal abad pertama hijriyah dan keberhasilannya melakukan Islamisasi nyaris di seluruh kepulauan Nusantara menjadikan madrasah sebagai sistem pendidikan asli penduduk negeri ini.[11]
Akan tetapi, menurut Malik Fadjar (1998: 35) dari sekian puluh ribu madrasah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air ini sebagian besar masih bergumul dengan persoalan berat yang sangat menentukan hidup dan matinya madrasah, sehingga nilai tawar semakin rendah dan semakin termarginalkan.[12] Dari pernyataan tersebut, yang dimaksud dengan sistem pendidikan madrasah ialah sistem pendidikan yang sangat mengacu pada pondok pesantren dan memegang teguh serta mengamalkan ilmu-ilmu yang terkandung dalam ketab tatacara mencari ilmu, yakni kitab ta’limul muta’alim, baik itu dari pihak pengajar maupun pelajar.
Dikatakan Malik Fadjar (1998: 41) bahwa problem internal madrasah yang selama ini dirasakan meliputi seluruh sistem kependidikannya, terutama sistem manajemen dan etos kerja madrasah, kualitas dan kuantitas guru, kurikulum, dan sarana fisik dan fasilitasnya. Problem semacam itu, seperti yang dipaparkan Imam Suprayogo, karena posisi madrasah berada dalam lingkaran setan, sebuah problem yang bersifat causal relationship; dari problem dana yang kurang memadai, fasilitas kurang, pendidikan apa adanya, kualitas rendah, semangat mundur, inovasi rendah, dan peminat kurang, demikian seterusnya berputar bagai “lingkaran setan”.[13]
Menurut Mastuhu (1999: 59) ada lima kelemahan system pendidikan  madrasah, yakni 1) mementingkan materi disbanding metodologi, 2) mementingkan memori di atas analisis dan dialog, 3) mementingkan otak’kiri’  dibandingkan otak ‘kanan’, 4) materi pelajaran agama yang diberikan tidak tidak menyentuh aspek social karena bercorak tradisional, 5) mementingkan orientasi ‘memiliki’ daripada ‘menjadi’. [14] Sehingga, siswa-siswi di madrasah lebih terlatih untuk mendengar  dan patuh, dibandingkan dengan menciptakan kreatifitasnya sendiri dan menjadi pribadi yang kritis. Namun, si era modern ini, tidak semua madrasah yang membiarkan murid-muridnya berdiam. Zaman telah berubah, meski beberapa sisa dari hal tersebut tetap masih ada.

B.  Pembentukan Karakteristik di Madrasah di Indonesia
Madrasah memang merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki nilai plus, karena selain ilmu-ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan, ilmu-ilmu agama tentu saja diajarkan. Namun, hal tersebut agaknya cukup sulit untuk benar-benar direalisasikan.
Ketika madrasah, yang memiliki posisi sebagai lembaga pendidikan formal, sepenuhnya merujuk pada pesantren, maka lembaga tersebut akan dianggap kolot dan sulit mengejar lembaga pendidikan umum yang lebih condong pada sistem pendidikan barat. Selain itu, kebanyakan pesantren di Indonesia memang tidak mewajibkan sesuatu kegiatan, maksudnya tidak ada peratura yang memaksa. Semua dilakukan dengan kesadaran masing-masing dan mungkin hanya saling mengingatkan sesama, sehingga budaya yang terkesan kurang disiplin pun muncul. Tetapi ketika madrasah mulai meninggalkan budaya lama dan tidak lagi merujuk pada pesantren juga merupakan kesalahan besar.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dialami oleh manusia sekarang ini, tidak sedikit dampak negatifnya terhadap sikap hidup dan perilakunya; baik ia sebagai manusia yang beragama, maupun sebagai makhluk individual dan sosial. [15]
Dampak negatif yang paling berbahaya terhadap kehidupan manusia atas kemajuan yang dialaminya, ditandai dengan adanya kecenderungan menganggap bahwa satu-satunya yang dapat membahagiakan hidupnya adalah nilai material. Sehingga manusia terlampau mengejar materi, tanpa menghiraukan nilai-nilai spiritual yang sebenarnya berfungsi untuk memelihara dan mengendalikan akhlak manusia.[16]
 Seorang guru SLTA, Ibu Yuni Dharmasantai, S. Pd., mengatakan bahwa ketika beliau mengajar di SMA dan di MAN, siswa-siswinya tetap berbeda, cara mereka menghormati guru, berbicara, bergaul, dan berteman. Menurut beliau, siswa-siswi di madrasah tetap lebih baik.[17]
Begitu pula Ibu Husnul khotimah, seorang ibu rumah tangga yang mempercayakan ke lima anaknya kepada lembaga pendidikan berbasis Islam, mulai sekolah dasar hingga kuliah, beranggapan bahwa teman-teman sangat mempengaruhi pemikiran dan kelakuan anak, bekal nilai-nilai agama dan nama sekolah Islam yang mereka sandang pasti membuat mereka enggan untuk berakhlak senonoh.[18] Sementara seorang guru Ibu Sholihah, seorang pendidik di sebuah MA beranggapan bahwa murid-murid zaman sekarang sudah berbeda dengan murid zaman dulu. Beliau merasa bahwa akhlak dan tata krama murid terhadap guru, baik itu murid dari madrasah atau sekolah umum, semuanya sama saja. Nilai unggah ungguh sudah hilang dari kehidupan anak muda zaman sekarang. Ketika siswa-siswi di madrasah mengenakan peci (siswa) dan jilbab (siswi), akhlak mereka memang lebih baik, tetapi ketika keluar dari lingkungan sekolah, dan melepas kopyah atau jilbab mereka, tidak bisa membedakan antara murid madrasah atau sekolah umum. [19]
Berbeda lagi dengan Pak H. Yusuf Afandi yang menyekolahkan anak pertamanya di SMP, dan anak keduanya di MTs. Beliau mengatakan bahwa kedisiplinan dan semangat bersaing dalam prestasi lebih dimiliki oleh anak pertamanya. Sedangkan anak keduanya, memang tidak begitu ambisius, tapi lebih sensitif terhadap situasi dan keadaan sekitarnya.[20]
Sehingga, dari hasil beberapa wawancara diatas dapat dinyatakan bahwa dalam hal akhlak dan kepribadian, madrasah memang lebih unggul, tetapi dalam hal kedisiplinan dan prestasi akademik, madrasah masih perlu pengembangan dan inovasi sistem pembelajaran. Karakteristik seseorang yang dibangun dengan nilail-nilai religius yang lebih banyak, tentu akan lebih lembut dan lebih baik dibandingkan dengan yang minim.



BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan yang sangat penting dan memberi pengaruh yang luar biasa besar terhadap anak didiknya. Selain itu, sistem pendidikan yang dijalankan juga memegang peran penting.
Beberapa aspek yang dapat mempengaruhi karakterisrik dan akhlak seseorang adalah insting, pola dasar bawaan (turunan), lingkungan, kebiasaan, kehendak, pendidikan.
Karakteristik seseorang yang dibangun di mdrasah dan di sekolah umum tetap berbeda. Memang segala sesuatu itu tergantung pada setiap individu, namun sekecil dan sedikit apapun nilai-nilai agama yang diterima dari lingkungan, tetap akan mempengaruhi karakteristiknya.

B.  Saran
Kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memang harus terus dilakukan. Tetapi seharusnya hati seorang muslim tidak akan berubah meskipun perubahan dan perkembangan zaman senantiasa terjadi. Pasokan pendidikan agama sekaligus ilmu pengetahuan umum yang dipautkan dengan ilmu agama (seperti kemukjizatan Al-Qur’an, ilmu alam, dan lain sebagainya) harus selalu diberikan kepada semua siswa. Selain mengerti akan ilmu pengetahuan, siswa siswi juga tetap menyadari dan mengagungkan Allah SWT, sehingga ketakwaannya kepada Allah SWT senantiasa semakin bertambah.



DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, M. Asrori. Madrasah: Kekuatan, Kelemahan dan Peluang, (Online), (http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/madrasah-kekuatan-kelemahan-dan-peluang.html, diakses 18 Desember 2012)
Badruddin, M. Fuad. Tesis. (Online), (http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_i/04920003-m-fuad-badruddin.ps, diakses 11 Mei 2013)
Fadjar, Malik. 1998. Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan.
Hamid, Abu. 1983. Sistem Pendidikan Madrasahdan Pesantren di Sulawesi Selatan Taufiah Abdullah  ed. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali.
Karel, A. Steenbrink. 1986. Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Jakarta: LP3ES.
Maksum. 1999. Madrasah Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos Wacana.
Mustofa, A. 1997. Akhlak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia.
Syamsu, Pradi Khusufi. 2009. Prospek Sistem Pendidikan Madrasah di Indonesia. Tuban: Seminar “Prospek Madrasah  (Pesantren) di Kancah Global”
Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu, Memanusiakan Manusia. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Wawancara dengan Yuni Dharmasanti, S. Pd., Kertosono, 10 Mei 2013
Wawancara dengan Husnul Khotimah, Kencong, 11 Mei 2013
Wawancara dengan Sholihah, Kencong, 11 Mei 2013
Wawancara dengan H. Yusuf Afandi, Surodadi, 11 Mei 2013





[1] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Akhlak Tasawuf, (Surabaya: IAIN SA Press, 2012) hal. 129
[2] Ibid., 130
[3] M. Asrori Ardiansyah, M.Pd, Madrasah: Kekuatan, Kelemahan dan Peluang, (Online), (http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/madrasah-kekuatan-kelemahan-dan-peluang.html, diakses 18 Desember 2012)
[4] Abu Hamid, Sistem Pendidikan Madrasahdan Pesantren di Sulawesi Selatan Taufiah Abdullah  ed. Agama dan Perubahan Sosial (Jakarta: Rajawali, 1983), hal.328
[5] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas , (Bandung: Mizan, 1998), hal. 15
[6] Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya,  (Jakarta: Logos Wacana, 1999), hal. 151
[7] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu,   Memanusiakan Manusia (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2010) hal. 185
[8] Ibid.
[9] Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1997), hal. 82-110
[10] Pradi Khusufi Syamsu, MA., Prospek Sistem Pendidikan Madrasah di Indonesia, (Tuban: Seminar “Prospek Madrasah  (Pesantren) di Kancah Global”, 2009) hal. 4
[11] Karel A Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. (Jakarta: LP3ES, 1986) hal. 2
[12] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung: Mizan, 1998) hal. 35
[13] Ibid., hal. 41
[15] Drs. H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1997), hal. 16
[16] Ibid. hal 17
[17] Wawancara dengan Yuni Dharmasanti, S. Pd., Kertosono, 10 Mei 2013
[18] Wawancara dengan Husnul Khotimah, Kencong, 11 Mei 2013
[19] Wawancara dengan Sholihah, Kencong, 11 Mei 2013
[20] Wawancara dengan H. Yusuf Afandi, Surodadi, 11 Mei 2013


download file disini atau disini
Thank you for visiting my blog. Don't forget to leave your comment below.
See you!
Wassalamu'alaikum.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RPP Kelas XII K 13 "TEKS PROSEDUR" (Prosedure Text)

RPP Kelas XII K13 "TEKS PENYERTA GAMBAR" (CAPTION)

Teaching Listening: Podcasting